(kasidah
jendela air mata dengan potret indosesia)
revisi:semen
Panggung sunyi tanpa
suara semuanya diam tanpa kata ruangan gelap tanpa lampu lalu tiba-tiba datang
suara dari belakang panggung dengan suara keras.
“dalam lelap perjalanan tidur yang
lelap ditengah-tengah kegelapan, Sinar yang meliuk jadi duka dan lara, jadi
kesengsaraan yang tak sempat aku musnahkan, hingga aku telan dan aku nikmati
bersama-sama.
Didalam
ruangan ini aku menjadi manusia, didalam ruangan ini aku lahir kembali,Mataku
terbuka . dan melihat cinta dibalik jendela,melihat gemerlapan cahaya matahari,
dan bulan pucat malam hari.
Aku
ingin kembali mengulang sekali lagi apa yang sudah aku jalani, menjadi manusia
biasa seperti yang lain itu ingin kembali mengulang nyanyian, kujadikan seuntai
sajak lalu rasanya ingin aku membacanya
Disini
sebuah negeri yang kaya raya, bongkahan batu permata yang lahir dari rahim
ombaknya, tak heran jika dunia mengaguminya, menertawakan dan membuangnya.!,
lahan
sawah untuk menghijaukan negeri ini bukan tak sanggup untuk kamu Tanami, yang
mereka ratakan dengan sebuah ajang kegengsian,
Tapi
tidak !!
Mereka
bukan manusia lagi, itu system yang tak mengenal rasa”
Setelah sunyi lalu lighting
hidup dan 3 para penari datang dengan satu-persatu lalu bernari dengan irama,
setelahnya beberapa menit kemudian para penari dengan kompak meninggalkan
panggung. lalu
Dikejudkan dengan bunyi
jiembie
“dhung
dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung
dhung dhun
Dengan
nada 1-2-3-4-5-6-7-8-9, lalu lathing mengiringi bunyi jembie dengan warna
perlahan sampai actor pertama datang.!!
Actor
I : seketika berada
ditengan-tengah panggung dengan bersimpuh dan bertunduk pan melihat kedepan ,
sampai lathing terang dan bunyi jembie berhenti, lalu dia mulai dialog
Selamat malam hadirin semuanya,
Selamat malam negeriku Indonesia
Selamat petang wajah lama
Lalu
berdiri dengan berlagak tersenyum dan bernyanyi jembie mengikutinya dan lathing
agak suram dan kelabu
Terdiri dari dua ratus juta jiwa
penduduk Indonesia, sampai timur-timur terpecah belah itulah Indonesia,
persengketaan dengan para suku juga itulah indonesia, ada jawa Kalimantan,
Sumatra, sunda, , batam, bali, papua plores Lombok dan masih banyak yang
lainnya
Tiba-tiba
dengan seketika ia diam dengan wajah mellas dan sedikit sedih lalu ia memlai
dialog lagi
Tapi apa yang dapat aku perbuat untuk
bertahan dalam hidup yang tak kan lama ini, apa coba!! Bukankah negeri kita
seluruh isi perutnya adalah permata, tapi rasanya kog lebih tiada diantara
ketiadaan yang sesungguhnya,
Actor
II : keadaan tenang lalu actor II
datang dengan perlahan dari ujung penonton dengan tanpa bersuara sedikit demi
sedikit ia berlagak ala pengembara dengan propertinya,dan jimbie mengiringinya
Peng
pak peng, Peng pak peng, Peng pak peng,papang Peng pak peng, papapang, Peng pak
peng,papapang
Ketika sudah nyampe
pangung lalu actor II, melirik actor I, dengan wajah yang meremehkan, dan ia tetap
saja melanjutkan perjalannannya, dengan memutar mutar panggung sambil melirik
wajah seorang actor I, lalu mengajak dialog
“ sedang
apa dirimu disana, bukankah bulan sedang berperan lalu engkau membunuh siang
hingga aku terasingkan dari dunia yang tak berkesimpulan ini,pernahkah engkau
mengira, walau secuil aku mengahrapkan. Tanpa berfikir dan engkau tetap saja
seperti anak kecil. Apakah itu yang dimaksud manusia, ternyata tidak. Kamu
hanyalah manusia yang sia-sia!! Hah……….
Dengan wajah kesal
actor II, meremehkan
Actor
I : “loh
kok kamu tau aku ada disini
Dengan wajah kaget
karena kedatangan actor II yang tiba-tiba meremehkannya
Actor
II : menjawabnya
Siapa yang tidak
tau dengan wajah lama yang tetap saja kusut kamu,
hah siapa? Siapa juga yang tidak tau dengan kejahatan yang terjadi
di negri ini,,
Dengan sedih dia
menanggapinya
sebelum mereka
diluangkan waktu untuk memimpin negri ini. Berkoar koar tanpa berfikir bahwa
saya akan menegakkan keadilan. Yang sungguh dan sesungguhnya/!!
Setelah aku menjadi ,Keadilan
yang sebagaimana, yang saya maksud.
Sementara
ketimpangan-ketimpangan social masih saja menjadi sarapan serasa makan siang.
Dan kematian karna kelaparan tetap saja aku
perlihatkan dan engkau menyaksikan !!
apakah itu yang dimaksud
dengan kebenaran. Saya rasa itu ending dari keserakahan yang saya artikan
dengan kesalahan.
Actor
I : aku tau itu
Actor
II : aku juga tau jika
kamu tau
Actor
I : walaupun kamu tau
jika aku tau, kamu tau aku tau
Actor
II : akupun juga tau
jika kamu tau, aku tau kamupun tau bahwa kamu tau dan aku juga tau
Actor
I : tidakkkkkkk!! kamu
tidak tau,
Dengan marah dia menjawab
lalu menunjuk actor II,
Tau apa kamu
tentang aku, hah.!! Tau apa?
Bukankah kamu yang memulai
semuanya, hingga kau jadikan dari putih kau ubah kehitam, sementara hitam kau
ubah lagi dengan kebisuan, malam kau bunuh dengan fajar, siangpun kau
perlakukan sama dengan senja yang basah. Dan engkau tidak bertanggung jawab.Lalu
engkau lari dengan mengembara, yang engkau anggap adalah aku yang
mengasingkanmu
Itu yang kamu tau membolak
balikkan fakta, dari barat ketimur, timur kebarat tanpa engkau menghiraukan
selatan dan utara.
Actor II hanya diam tanpa
suara setelah ditegur, lalu Actor I duduk dipinngir panggung tanpa menghadap
penonton dan melanjutkan kekesalannya melalui pelampiasan lewat sajak.(putu
wijaya)
Sementara dunia
masih terus berjalan dan kehidupan agak melenceng, seperti tak kekurangan
apa-apa tanpa aku,
Sekarang kesempatanku yang
terakhir, mengisi kembali puluhan tahun yang telah aku lompati dengan terlalu
cepat,
Tapi apa yang bisa aku
lakukan dalam waktu yang cukup singkat,
Ketika aku mulai melihat
yang pertama sekali aku lihat adalah kejahatan ‘mak kui dihajar habis oleh
suaminya
Ketika pertama kali aku
mendengar yang aku dengar adalah keserakahan ‘para tetangga beramai ramai
memfitnah kami supaya mampus
Dan ketika aku mulai
berbuat, yang pertama kali aku buat adalah dosa,’ kudorong anak itu kejurang
dan sepedanya aku larikan, sejak saat itu aku menjadi seorang bajingan
Sementara aku merasa amat
kesepian, ditinggal oleh dunia, yang tak mengakuiku sebagai anaknya
Actor
III :sosok perempuan datang berperan tuminah
sebagai istri dari alimin, lalu diam dipojok panggung tanpa bersuara.
Actor
IV : kau disitu
tuminah? Rupanya kau yang melototiku disitu dari tadi? Apa kabar? Sedang apa
kamu sekarang? Kenapa lipstick kamu blepotan? Ada satpam yang memperkosamu? Hah.!!
Jangan diam saja seperti orang begog saying, kemari masih inget padaku kan,
haha, aku bukan yang dulu lagi kaupun tidak, lihat ketiak kita sudah ubanan.
Tapi kita pernah bersama-sama membuat sejarah, dan itu tidah bisa hapus begitu
saja
Actor
III : sementara dia hanya sedih.
Actor
IV : tetap melanjutkan dialog
Sekeping dari diri
kamu masih ada dalam hidupku, dan baagian dari diriku masih saja tersimpan pada
kamu, kita bisa berbohong tapi itu tidak menolong, mari sayang temani aku
menghitung dosa, berapa kali kamu aku tonjok? Berapa kali kamu aku elus, dan
berapa kali kamu aku sumpahi,
Tapi jangan lupa! Berapa
kali pula aku telah kau berikan bahagia, waktu kusedot bibirmu sampai
bengkak.... waktu kita berjoged diatas rel-rel kereta, dan waktu kita menonton
wayang dibawah jembatan (lalu suara jimbie mengiringi, dheng, dheng dhen thang
thang thang theng,,,) tapi kenapa ,
kenapa kemudian kau lari dengan bajingan itu?
Semakin keras bunyi jimbie
lalu berhenti
Sundal !!
lonthe..!! aku masih inget , ketika aku menyambar parang dan mengumber kamu
diatas kolong jembatan, lalu kutebas lehermu yangpanjang itu.
Tidak aku tidak menyesal,
aku tau janin yang ada diperutmu juga ikut mampus, tapi itu lebih baik. Biar
kau hanya jadi miliku kau mengerti
Kau tak pernah mengerti,,
kau tak pernah mencintaiku.. bahkan kematian tak membuat kau mengubah sikap
bencimu
Kau menang tuminah, kau
mati tapi kau menang.! Sialan kog bisa
Actor
III : tiba-tiba tuminah
pergi dari panggung, tanpa mengucapkan apa-apa sementara actor alimin
Actor
IV : tuminah .!! kemana,
jangan pergi untuk meninggalkan yang kesekian kali, kan kamu tau hanya kesepian
yang aku peluk stelah kamu mampus,
Tiba-tiba serasa dia
melihat matahari lalu dia marah dan berdialog dengan matahari
Hey.!! Matahari, kamu jangan ngece, jangan sombong. Tak perlu tertawa
melihat bajingan menangis. Apa salahnya, air mata bukan tanda kelemahan, tapi
kehalusan jiwa, kurang ajar , terkekeh kekeh lagi ya, kau piker kau hebat?
Tidak, siapa bilang kau hebat?
Kau tidak akan bisa
melewati kepalaku hari, bukan kau yang paling tinggi sekarang, aku jauh lebih
tinggi dari kamu, kau tidak akan bisa melewati kepalaku hari ini, tidak bisa
Naiklah lebih tinggi
lagi!!... aku akan membungbung dan tetap yang paling tinggi selama-selamanya.
Paling perkasa, sampai aku turun dan menyerahkan diri kepadamu
Karena mulai besok aku akan
mengembara mencari dunia yang hilang, tanpa teman, tanpa sodara, mecari
sendirian sepanjang malam
Akan kuputari dunia, aku
masuki lautan, aku reguk segala kesulitan... meskipun tidak pasti tak akan
kutemukan apa-apa diatas pundakku hanya akan berjatuhan beban, semua orang
melemparkan kutukan, mereka bilang akulah biang keladi semuanya,
Kalau ada anak yang mati
akulah pembunuhnya,kalau ada kebakaran akaulah pelakunya
Kalau ada pemerkosaan
akulah jahananya, dan kalau ada pemberontakan akulah biangnya..
Tidak!! itu bohong, itu
semena-mena harus dihentikan sekarang,
Lalu Alimin, meninggalkan
panggung dengan pergi kedepan panggung, sambil melantunkan sajak. Untuk menemui
ibu dan bapaknya
Didalam ruangan ini
aku menjadi manusia, didalam ruangan ini aku lahir kembali, mataku terbuka, dan
melihat cinta dibalik jendela, melihat gemerlapan cahaya matahari, dan bulan
pucat malam hari.
Aku ingin kembali mengulang sekali lagi, apa yang sudah aku jalani,
menjadi manusia biasa seperti yang lain-lain itu,
Actor
V :seseorang berbaju hitam datang
lalu menegur
jangan alimin.!! Jangan melagkah mundur,,
tetaplah jadi contoh yang jelas supaya tidak kabur, penjahat harus tetap jadi
penjahat, supaya kejahatan tidak kabur dengan kebaikan, dunia sedang galau ,
batas-batas sudah tidak jelas, tolonglah aku alimin, sekarang diperlukan
seorang penegas yaitu kamu,!!
(lalu tiba-tiba seseorang
yang berbaju hitam itu meninggalkan panggung)
Actor
IV : dan
aku disini aku harus menegakan kejahatan,
Jimbie dengan lighting
mengiringi. Dan alimin berdialog dengan ibunya
Aku bukan lagi
anakmu ibu, aku telah dipilih mewakili jaman menjadi contoh bermocoroh, kau
harus bersyukur ini kehormatan besar, tidak ada orang yang berani menjadi
jahat, meskipun mereka melakukan kejahatan
Aku bukan penjahat biasa,
aku ini lambang. Kejahatan ini aku lakukan aku lakukan demu menegakkan harmoni
Actor
VI : jangan berlagak keburu, apakah keptusanmu itu sudah tepat, tanyakan
dulu ke babak,, sebab aku istri dari bapakmu, dan kamu adalah anak kita berdua.
Actor
IV : mendengar perkataan ibu,,
bergegas untuk menghampiri sang bapak
Actor
VII :ada apa dengan gelisahmu
Sang bapak alimin
menanggapi
Actor
IV : alimin majawab
Jadi sebenarnya aku bukan
penjahat, tapi pahlawan yang pura-pura jahat.aku tidak peduli disebut
bromocorah, karena aku sadar tidak benar,aku lakukan semua itu untuk negeri
ini, meskipun tak masuk dalam buku sejarah,
Actor
VII :sang bapak menjawab jadi kamu merasa benar.!! bukankah para
penerbit berlomba-lomba untuk menyimpulkan dari sebuah karya
Actor
IV : ya benar! Karena tidak ada seorang penulis sejarah yang gila melihat
kebenaran ini
Actor
VII : pergilah jangan menjadi seorang pengecut yang tak bertanggung jawab,
Actor
IV : bergegas-gegas untuk pergi
menemui pengadilan untuk mempertanggung jawabkan perbuatan
Actor
VIII,IX,X.::tiga actor ini berperan menjadi penegak hokum, dan duduk dikursi
hakim, dengan propertinya
Actor
I :alimin datang juga kepengadilan
seola-olah untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya dan ikut
persidangan,,lalu berdiri membelakangi penonton untuk dengan tegas ia berdiri,
Actor
VIII,IX,X.: lalu hakim memulai persidangan, dengan mengetuk palu sidang,
Thuk, thuk, thuk,,!!! sidang dimulai,,, kepada terduga silahkan
berbicara.
Actor
I :yang mulia hakim yang terhormat,saya tidak akan membela apa yang sudah
saya lakukan, saya justru ingin menjelaskan, bahwa memang benar saya yang
melakukan segala ini, wanita itu saya cabik lehernya, karena saya rasa itu yang
paling tepat untuknya
Kemudian harta bendanya
saya rampas, karna tidak dimanfaatkan akan mubadzir
Actor
VII,VIII,IX.: : dari bukti yang ada.bahwa
sanya kamu melakukan dengan keadaan mabuk, apakah itu benar!!
Actor
IV :, data-data itu tidak falid,, saya lakukan itu dalam keadaan tenang,
pikiran saya waras, tapi mengapa?mengapa? saya tak bisa menjawabnya, karena
bukan itu permasalahannya,
Saya justru ingin menanyakan kepada paduka, dan seluruh
hadirin yang ada disini. Mengapa wanita yang tercabik lehernya mendapatkan perhatian yang
begitu besar?
Sementara leher saya dan seluruh jutaan leher orang
lain yang dicabik-cabik tak pernah diperhatikan,
Apa arti kematian seorang pelacur ini, dibandingkan
dengan kematian kita secara beramai-ramai tanpa kita sadari
Didepan anda sekaliaan ini saya menuntut, berikanla
saya hukuman yang pantas, tapi jangan lupa berikan pula hukuman pada orang yang
telah mencabik-cabik leher kami itu, dengan setengah pantas saja,
Karena saya leher cabik wanita itu dengan harapan anda
semua teringat, bahwa leher kamipun telah dicabik dengan cara yang sama. Dan
semuga ingatan-ingatan itu diikuti pula dengan hukuman pada yang bersangkutan
Kalau sudah begitu apapun yang dijatuhkan pada saya,
dua kali mati sekalipun akan saya jalani dengan rela, tapi kalau tidak itu
namanya semena-mena
Tiba-tiba ada bunyi , “dhungggggggggg, seperti orang
mengetuk pintu lalu alaimin terkejud.
Actor
XI: datang menjadi seorang bos yang menyuruh alimin untuk membunuh perempuan
itu,,
Actor
IV: lalu alimin menyapanya.
Oh..!! bapak kaudisitu rupanya.1! ada apa
lagi,,
Actor
XI:ada apa?2 bagaimana? Dengan
persoalan yang kemaren,
Actor
IV: oh masalah itu
,,,, beress,,!!
Badannya saya potong tiga . dua
potong saya geletakkan deket sampah dan yang sepotong lagi, saya sembunyikan
dirawa,
Nah, pasti ketemu,, tapi biar
kesulitan sedikit,, Pokoknya beres
jangan khawatir,
Actor
XI: kamu keliru
Actor
IV: apa, masa? Keliru, tidak mungikn, tpi
anak itu memakai anting sebelah kiri bukan,
Actor
XI: sementara dia memakai bagian kanan
goblok,
Actor
IV: kanan.? apa beedanya,!! Kan bapak Cuma bilang kalau dia
pakai anting
Mungkin pada waktu itu dia memakai keliru supaya orang keliru,
!! tapi saya tau itu dia. Cuma dia yang pakai baju seperti itu, dan jalannya
teppang sedikit,,
Belum sempat berpaling, saya beri,,
Actor
XI: salah tolol,, gk becus kamu,
Actor
IV:hah,!! Salah , jadi itu siapa?
Actor
XI: dia anak seorang penjual somay, apakah kamu tidak mengenalinya, atau mungkin
kamu buta,,
Actor
IV: anak tukang somay itu, iya saya
kenal,,
Bajingan. Kenapa bisa begitu,?!
Dia kan orang baik,.
Actor
XI: pergi meninggallkan panggung tanpa menghiraukan alimin,,
Actor
IV:hey
tunggu,(kemudian alimin menyesali perbuatannya, lalu curhat pada tuhan.)
Ya tuhan, kenapa? Kamu tipu saya,
kenapa tak kamu bilang bukan itu orangnya, keliru si boleh saja, tapi
jangan anak itu, bapaknya kan baik sekali, ibunya juga selalu memberi nasehat(lalu
meminta maaf pada seorang ibu korban)
Saya minta maaf bu, minta berjuta2 ampun, bukan saya
yang melakukannya, tapi setan, apa alas an saya untuk mengganggu nanak ibu
Saya justru banyak berhutang budi sama ibu, ibu selalu membelikan
rokok, membelikan minuman, ibu sering menegur saya didepan orang banyak tanpa
malu2, dan saya sering diperkenalkan kepada teman2 ibu, sebagai orang baik,
Actor
XII:sang ibu berkata(
Aku tak menyangka, kau setega itu, kan kamu tau dia temenmu
Actor
IV:: alimin menjawab,
Iya betul dia memang teman saya, tapi tidak itu bukan perbuatan saya,
itu perbuatan orang lain yang memakai tubuh saya , saya tak ikut bertanggung
jawab, apa?,,
Actor
XII: kamu tau hokum karma
Actor
IV: saya
tau itu, kesalahan tidak bisa diperbaiki degna kata2 yasudah biar lunas,,
potong saja tangan saya,,,
Lalu alimin memotong tangannya,
sebagai pertanggung jawaban,karena ia telah membunuh temennya sendiri,
Aku sudah potong tangan ku, tapi masih belum terasa lunas,
Dengan
sedih dia menyesalinya,
Wajahnya selalu memburuku, lalu buat
apa? Aku potong. Kalau masih saja di ungkit. Norang keliru namanya masak masih
saja terus diburu? Masa aku yang harus menanggung ini sendirian,?
Mana? Mereka yang menyuruh? Ini
semua kan gara2 mereka,
masa sekarang Cuma aku saja yang menanggung
buntutnya, tangkap dong mereka semua, biar adil, jangan aku saja,
lama2 begini aku menjadi tidak kuat,, yang
ditangkap mesti yang dosanya sedikit,
betul, lihat itu yang kakap, malah
asik berpestpora disitu, naik sedan mewah anti peluru, tangkap mereka, aku kan
Cuma bandit kecil, tangkap mereka.!!,
yasudah kalau begitu tak jadi saja
aku potong, kalau kamu bisa curang aku juga paling bisa.!!
Lalu
alimin seakan dipenjara dan mendapat hukuman yang seberat2nya, dan disiksa,
Lama
kemudian,,,, sang alimin mulai dialog lagi , dangan expresi,, seakan dia sudah
puluhan tahun di penjara, dan lighting
kuning yang hidup,
Bertahun2 aku alihkan makana
kemerdekaan kedalam jiwaku tapi tak pernah berhasil,
Kemerdekaan, itu selalu kebebasan
raga, tapi pada hari ini aku akan bebas, walaupun tubuhku masih dipatok
diantara dinding jahannam ini, tapi jiwaku sudah bebas, aku tidak memerlukan
kebebasan tubuh lagi, karena jiwaku sudah merdeka, tapi setelah puluhan tahun
mengalami siksaan , tiba2 mereka mengantarkan, pengadilan telah salah, aku
tidak berdosa. Aku diserert lagi keluar untuk berlomba mereguk kebeasan
jasmani, aku tidak siap, aku seperti burung yang terlalu lama dalam sangkar,
aku tak bisa lagi terbang, aku takut dunia ini tak kukenal lagi,
Pada kesempatan pertama kugerogoti
barang2 tetangga, tapi tak ada yang menangkapku, hansip malah berbagi, dan
menunjukan warung berikutnya,,
Pada kesempatan yang lain, kuangkat
belati keleher seorang penumpang becak,, dari kantongnya keluar jutaan rupiah,
yang dibalut dengan kertas Koran, aku kira polisi akan memangkapku tapi
ternyata tak ada yang tau
Pada kesempatan ketiga kuperkosa
seorang gadis dipinggir kali, ia menjerit2 dalam tindihanku, tapi tak ada yang
menolong,, hingga akhirnya aku lepaskan, karena jasmaniku tak sanggup lagi
memperkosa, karena putus asa, aku gebuk orang dijalan, mukanya berdarah, tapi
tak ada juga yang menangkapku, aku malahn diangkat menjadi keamanan, aku diberi
kehormatan, dan banyak orang berbaris jadi pengikutku, apa yang harus aku
lakukan.ternyata segalanya sudah jungkir-jungkiran.
Yang dulunya kejahatan, sekarang
jadi kiat yang dipujikan, aku tak paham lagi dunia ini, aku jadi orang asing,
aku tak bisa lagi menik mati kemerdekaan, bisa2 aku gila, masukan aku kedalah
penjara lagi, disana masih jelas, mana hitam, mana? Puti, kalau dunia sekarang
yang ada hanya kebingungan,
Tiba2
lighting mati, dan panggung gelap,
keadaan menjadi sunyi, beberapa menit kemudian, actor yang terakhir
datang, dengan memerankan seseorang yang bijak, lalu dia menutup cerita, dengan
mengejudkan dia datang bersamaan dengan lighting hidup, dan bunyi
dhoooorrrrrrrr
Actor
XIII: AKTOR
TERAKHIR,,,,,,,,,
Kalau sudah menderita, orang menjadi penyair, kalau hendak kepepet
orang mulai bernyanyi, dan kalau ada
orang yang hendak dirampok, orang berdo’a, dan sekarang aku akan menari, karena
sudah putus asa, badanku ringan , aku melambung ke angkasa, dan tuhan menyapaku
dengan ramah,
Bung alimin hendak kemana kamu, aku
mau keatas, lebih tinggi, tapi kamu tidak boleh lebih tinggi dari surga, siapa
bilng tidak, kalau aku mau, aku bisa,
Dan aku melenting lagi, tetapi
terlalu jauh, aku terlontar jauh sekali, tinggi sekali melewati surge, kedekat
matahari,, tubuhku terbang, aku hangus dan hilang dalam semesta, aku tidak ada
lagi, alimin menyatu dengan bimasakti, aku menjadi, dewa, atau mungkin bukan,
aku Cuma hantu,, enak juga jadi hantu, tidak kelihatan, tapi bisa melihat, aku
bisa masuk kekamar mandi, dan melihat perempuan mandi yan g menjadi cabul
ketika sedang sendiria, lalu aku masuk kekamar tidur para pemimpin,,, dan
melijhat ia, menjilat pantat istrinya seperti anjing,lalu aku masuk kerumah
suci, dan melihat beberapa pendeta main judi, sambil menarik narik kain para
pembantu, tidak ada orang yang bersih lagi,, sementara2 dokma2 makin keras
ditiup, dan aturan makin banyak dijajarkan, untuk membatasi tingkah laku
manusia, peradaban semakin kotor.,, apa? Ini,,, hey,, apa ini,, menjadi hantu
hanya melihat keberengsekan,,
Tidak
enak jadi hantu,, tidak enak jadi dewa,,,, lebih baik, aku menjadi batu, diam
dingin dan keras,, aku akan mengkristal
disini, menjadi saksi bisu, bagaimana? Dunia menjadi tua
Pemimpin2 lahir berkibar kibar
sebentar, lalu berkhianat,peperangan hanyha mainan orang tokh sejarah, manusia
disibukan dengan peradaban, teknologi menjadi buas,
Tak satupun bersangkutan dengan
kehadiranku,
Tiba2 aku melihat anak kecil
dikejar raksasa wajah anak itu, mirip sekali dengan wajahku waktu masih
menyusu., ia meronta2 minta pertolongan, tapi tak ada orang lain disitu,
kecuali aku dan sebuah batu,, ia menjerit2 pilu, tlongggggggggggggggg,,, akju
jadi terharu, akhirnya aku tak bisa diam, aku melompat mengambil sebuah batu,
dan menghantam raksasa itujadi pahlawan,mengingkariku yang tak berdaya,,
raksasa itu mati, tapi anak itu juga lari, dimana?2 ia bercerita bagaimana? Ia
membunuh raksasa dg tangan hampa,, dan itulah aku,,, kejahatan terbesar aku
adalah, menghianati diriku sendiri,,
Ya itu dia,
Tiba
ada bunyi yang menjadi penutup dari cerita, lalu actor terakhir berdialog lagi
Selamat tinggal dinding bisu,
dengan segala suara yang kau simpan, selamat tinggal jendela, kau yang telah
memberiku matahari dan bulan, selamat tinggal sipir penjara, yang marahnya tak
habis2 pada dunia,, dan selamat tinggal karpo , pembunuh yang tak akan keluar hidup
dari penjara ini,,, selamat tinggal segala yang kubenci dan kucintai, inilah
salamku,,, sahabat semua orang yang
sekarang harus pergi,, ingin kuulang semua, walau hanya sebentar,,
Tapi tak bisa janjiku sudah lunas,
sekarang aku berjalan kedalam, kebisuan yang abadi untuk membeku bersama masa
lalu, sekarang baru jelas, apa yang sudah aku lakukan, apa yang akan aku
lakukan, dan apa yang masih belum aku lakukan, tapi semuanya sudah selesai,,
dan segala kekurangannya ini adalah karya yang sempurna, aku mengagumi
keindahanNya, akun merasakan kehadiranNya, aku masuki tubuhNya sekarang ,
SELAMAT TINGGAL
SEMUANYA
SEKIAN,!!!!
Teaterkopi.blogspot.com
0 komentar:
Posting Komentar