Rabu, 30 April 2014

BULAN DALAM SANGKAR

(kasidah jendela air mata dengan  potret indosesia)
revisi:semen
Panggung sunyi tanpa suara semuanya diam tanpa kata ruangan gelap tanpa lampu lalu tiba-tiba datang suara dari belakang panggung dengan suara keras.
dalam lelap perjalanan tidur yang lelap ditengah-tengah kegelapan, Sinar yang meliuk jadi duka dan lara, jadi kesengsaraan yang tak sempat aku musnahkan, hingga aku telan dan aku nikmati bersama-sama.
Didalam ruangan ini aku menjadi manusia, didalam ruangan ini aku lahir kembali,Mataku terbuka . dan melihat cinta dibalik jendela,melihat gemerlapan cahaya matahari, dan bulan pucat malam hari.
Aku ingin kembali mengulang sekali lagi apa yang sudah aku jalani, menjadi manusia biasa seperti yang lain itu ingin kembali mengulang nyanyian, kujadikan seuntai sajak lalu rasanya ingin aku membacanya
Disini sebuah negeri yang kaya raya, bongkahan batu permata yang lahir dari rahim ombaknya, tak heran jika dunia mengaguminya, menertawakan dan membuangnya.!,
lahan sawah untuk menghijaukan negeri ini bukan tak sanggup untuk kamu Tanami, yang mereka ratakan dengan sebuah ajang kegengsian,
Tapi tidak !!
Mereka bukan manusia lagi, itu system yang tak mengenal rasa”
Setelah sunyi lalu lighting hidup dan 3 para penari datang dengan satu-persatu lalu bernari dengan irama, setelahnya beberapa menit kemudian para penari dengan kompak meninggalkan panggung. lalu
Dikejudkan dengan bunyi jiembie
“dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhung dhun
Dengan nada 1-2-3-4-5-6-7-8-9, lalu lathing mengiringi bunyi jembie dengan warna perlahan sampai actor pertama datang.!!
Actor I         : seketika berada ditengan-tengah panggung dengan bersimpuh dan bertunduk pan melihat kedepan , sampai lathing terang dan bunyi jembie berhenti, lalu dia mulai dialog
Selamat malam hadirin semuanya,
Selamat malam negeriku Indonesia   
Selamat petang wajah lama
Lalu berdiri dengan berlagak tersenyum dan bernyanyi jembie mengikutinya dan lathing agak suram dan kelabu
Terdiri dari dua ratus juta jiwa penduduk Indonesia, sampai timur-timur terpecah belah itulah Indonesia, persengketaan dengan para suku juga itulah indonesia, ada jawa Kalimantan, Sumatra, sunda, , batam, bali, papua plores Lombok dan masih banyak yang lainnya
Tiba-tiba dengan seketika ia diam dengan wajah mellas dan sedikit sedih lalu ia memlai dialog lagi
Tapi apa yang dapat aku perbuat untuk bertahan dalam hidup yang tak kan lama ini, apa coba!! Bukankah negeri kita seluruh isi perutnya adalah permata, tapi rasanya kog lebih tiada diantara ketiadaan yang sesungguhnya,
Actor II        : keadaan tenang lalu actor II datang dengan perlahan dari ujung penonton dengan tanpa bersuara sedikit demi sedikit ia berlagak ala pengembara dengan propertinya,dan jimbie mengiringinya
              Peng pak peng, Peng pak peng, Peng pak peng,papang Peng pak peng, papapang, Peng pak peng,papapang
                  Ketika sudah nyampe pangung lalu actor II, melirik actor I, dengan wajah yang meremehkan, dan ia tetap saja melanjutkan perjalannannya, dengan memutar mutar panggung sambil melirik wajah seorang actor I, lalu mengajak dialog
              “ sedang apa dirimu disana, bukankah bulan sedang berperan lalu engkau membunuh siang hingga aku terasingkan dari dunia yang tak berkesimpulan ini,pernahkah engkau mengira, walau secuil aku mengahrapkan. Tanpa berfikir dan engkau tetap saja seperti anak kecil. Apakah itu yang dimaksud manusia, ternyata tidak. Kamu hanyalah manusia yang sia-sia!! Hah……….
                  Dengan wajah kesal actor II, meremehkan
Actor I         : “loh kok kamu tau aku ada disini
                            Dengan wajah kaget karena kedatangan actor II yang tiba-tiba meremehkannya
Actor II        : menjawabnya
                     Siapa yang tidak tau dengan wajah lama yang tetap saja kusut kamu,
                      hah siapa? Siapa juga  yang tidak tau dengan kejahatan yang terjadi di negri ini,,
                     Dengan sedih dia menanggapinya
                     sebelum mereka diluangkan waktu untuk memimpin negri ini. Berkoar koar tanpa berfikir bahwa saya akan menegakkan keadilan. Yang sungguh dan sesungguhnya/!!
                     Setelah aku menjadi ,Keadilan yang sebagaimana, yang saya maksud.
                     Sementara ketimpangan-ketimpangan social masih saja menjadi sarapan serasa makan siang.
                      Dan kematian karna kelaparan tetap saja aku perlihatkan dan engkau menyaksikan !!
                     apakah itu yang dimaksud dengan kebenaran. Saya rasa itu ending dari keserakahan yang saya artikan dengan kesalahan.
  Actor I        : aku tau itu                
Actor II        : aku juga tau jika kamu tau
Actor I         : walaupun kamu tau jika aku tau, kamu tau aku tau
Actor II        : akupun juga tau jika kamu tau, aku tau kamupun tau bahwa kamu tau dan aku juga tau
Actor I         : tidakkkkkkk!! kamu tidak tau,
                     Dengan marah dia menjawab lalu menunjuk actor II,
                     Tau apa kamu tentang aku, hah.!! Tau apa?
                     Bukankah kamu yang memulai semuanya, hingga kau jadikan dari putih kau ubah kehitam, sementara hitam kau ubah lagi dengan kebisuan, malam kau bunuh dengan fajar, siangpun kau perlakukan sama dengan senja yang basah. Dan engkau tidak bertanggung jawab.Lalu engkau lari dengan mengembara, yang engkau anggap adalah aku yang mengasingkanmu
                     Itu yang kamu tau membolak balikkan fakta, dari barat ketimur, timur kebarat tanpa engkau menghiraukan selatan dan utara.
                     Actor II hanya diam tanpa suara setelah ditegur, lalu Actor I duduk dipinngir panggung tanpa menghadap penonton dan melanjutkan kekesalannya melalui pelampiasan lewat sajak.(putu wijaya)
                     Sementara dunia masih terus berjalan dan kehidupan agak melenceng, seperti tak kekurangan apa-apa tanpa aku,
                     Sekarang kesempatanku yang terakhir, mengisi kembali puluhan tahun yang telah aku lompati dengan terlalu cepat,
                     Tapi apa yang bisa aku lakukan dalam waktu yang cukup singkat,
                     Ketika aku mulai melihat yang pertama sekali aku lihat adalah kejahatan ‘mak kui dihajar habis oleh suaminya
                     Ketika pertama kali aku mendengar yang aku dengar adalah keserakahan ‘para tetangga beramai ramai memfitnah kami supaya mampus
                     Dan ketika aku mulai berbuat, yang pertama kali aku buat adalah dosa,’ kudorong anak itu kejurang dan sepedanya aku larikan, sejak saat itu aku menjadi seorang bajingan
                     Sementara aku merasa amat kesepian, ditinggal oleh dunia, yang tak mengakuiku sebagai anaknya
Actor III      :sosok perempuan datang berperan tuminah sebagai istri dari alimin, lalu diam dipojok panggung tanpa bersuara.
Actor IV      : kau disitu tuminah? Rupanya kau yang melototiku disitu dari tadi? Apa kabar? Sedang apa kamu sekarang? Kenapa lipstick kamu blepotan? Ada satpam yang memperkosamu? Hah.!! Jangan diam saja seperti orang begog saying, kemari masih inget padaku kan, haha, aku bukan yang dulu lagi kaupun tidak, lihat ketiak kita sudah ubanan. Tapi kita pernah bersama-sama membuat sejarah, dan itu tidah bisa hapus begitu saja
Actor III      : sementara dia hanya sedih.
Actor IV      : tetap melanjutkan dialog
                     Sekeping dari diri kamu masih ada dalam hidupku, dan baagian dari diriku masih saja tersimpan pada kamu, kita bisa berbohong tapi itu tidak menolong, mari sayang temani aku menghitung dosa, berapa kali kamu aku tonjok? Berapa kali kamu aku elus, dan berapa kali kamu aku sumpahi,
                     Tapi jangan lupa! Berapa kali pula aku telah kau berikan bahagia, waktu kusedot bibirmu sampai bengkak.... waktu kita berjoged diatas rel-rel kereta, dan waktu kita menonton wayang dibawah jembatan (lalu suara jimbie mengiringi, dheng, dheng dhen thang thang thang theng,,,)  tapi kenapa , kenapa kemudian kau lari dengan bajingan itu?
                     Semakin keras bunyi jimbie lalu berhenti
                     Sundal !! lonthe..!! aku masih inget , ketika aku menyambar parang dan mengumber kamu diatas kolong jembatan, lalu kutebas lehermu yangpanjang itu.
                     Tidak aku tidak menyesal, aku tau janin yang ada diperutmu juga ikut mampus, tapi itu lebih baik. Biar kau hanya jadi miliku kau mengerti
                     Kau tak pernah mengerti,, kau tak pernah mencintaiku.. bahkan kematian tak membuat kau mengubah sikap bencimu
                     Kau menang tuminah, kau mati tapi kau menang.! Sialan kog bisa
Actor III      : tiba-tiba tuminah pergi dari panggung, tanpa mengucapkan apa-apa sementara actor alimin
Actor IV      : tuminah .!! kemana, jangan pergi untuk meninggalkan yang kesekian kali, kan kamu tau hanya kesepian yang aku peluk stelah kamu mampus,
                     Tiba-tiba serasa dia melihat matahari lalu dia marah dan berdialog dengan matahari
                     Hey.!! Matahari, kamu jangan ngece, jangan sombong. Tak perlu tertawa melihat bajingan menangis. Apa salahnya, air mata bukan tanda kelemahan, tapi kehalusan jiwa, kurang ajar , terkekeh kekeh lagi ya, kau piker kau hebat? Tidak, siapa bilang kau hebat?
                     Kau tidak akan bisa melewati kepalaku hari, bukan kau yang paling tinggi sekarang, aku jauh lebih tinggi dari kamu, kau tidak akan bisa melewati kepalaku hari ini, tidak bisa
                     Naiklah lebih tinggi lagi!!... aku akan membungbung dan tetap yang paling tinggi selama-selamanya. Paling perkasa, sampai aku turun dan menyerahkan diri kepadamu
                     Karena mulai besok aku akan mengembara mencari dunia yang hilang, tanpa teman, tanpa sodara, mecari sendirian sepanjang malam
                     Akan kuputari dunia, aku masuki lautan, aku reguk segala kesulitan... meskipun tidak pasti tak akan kutemukan apa-apa diatas pundakku hanya akan berjatuhan beban, semua orang melemparkan kutukan, mereka bilang akulah biang keladi semuanya,
                     Kalau ada anak yang mati akulah pembunuhnya,kalau ada kebakaran akaulah pelakunya
                     Kalau ada pemerkosaan akulah jahananya, dan kalau ada pemberontakan akulah biangnya..
                     Tidak!! itu bohong, itu semena-mena harus dihentikan sekarang,
                     Lalu Alimin, meninggalkan panggung dengan pergi kedepan panggung, sambil melantunkan sajak. Untuk menemui ibu dan bapaknya
                     Didalam ruangan ini aku menjadi manusia, didalam ruangan ini aku lahir kembali, mataku terbuka, dan melihat cinta dibalik jendela, melihat gemerlapan cahaya matahari, dan bulan pucat malam hari.
                     Aku ingin kembali mengulang sekali lagi, apa yang sudah aku jalani, menjadi manusia biasa seperti yang lain-lain itu,
Actor V        :seseorang berbaju hitam datang lalu menegur
                      jangan alimin.!! Jangan melagkah mundur,, tetaplah jadi contoh yang jelas supaya tidak kabur, penjahat harus tetap jadi penjahat, supaya kejahatan tidak kabur dengan kebaikan, dunia sedang galau , batas-batas sudah tidak jelas, tolonglah aku alimin, sekarang diperlukan seorang penegas yaitu kamu,!!
                     (lalu tiba-tiba seseorang yang berbaju hitam itu meninggalkan panggung)
Actor IV      : dan aku disini aku harus menegakan kejahatan,
                     Jimbie dengan lighting mengiringi. Dan alimin berdialog dengan ibunya
                            Aku bukan lagi anakmu ibu, aku telah dipilih mewakili jaman menjadi contoh bermocoroh, kau harus bersyukur ini kehormatan besar, tidak ada orang yang berani menjadi jahat, meskipun mereka melakukan kejahatan
                     Aku bukan penjahat biasa, aku ini lambang. Kejahatan ini aku lakukan aku lakukan demu menegakkan harmoni
Actor VI      : jangan berlagak keburu, apakah keptusanmu itu sudah tepat, tanyakan dulu ke babak,, sebab aku istri dari bapakmu, dan kamu adalah anak kita berdua.
Actor IV      : mendengar perkataan ibu,, bergegas untuk menghampiri sang bapak
Actor VII     :ada apa dengan gelisahmu
                     Sang bapak alimin menanggapi

Actor IV      : alimin majawab
                     Jadi sebenarnya aku bukan penjahat, tapi pahlawan yang pura-pura jahat.aku tidak peduli disebut bromocorah, karena aku sadar tidak benar,aku lakukan semua itu untuk negeri ini, meskipun tak masuk dalam buku sejarah,
Actor VII     :sang bapak menjawab jadi kamu merasa benar.!! bukankah para penerbit berlomba-lomba untuk menyimpulkan dari sebuah karya
Actor IV      : ya benar! Karena tidak ada seorang penulis sejarah yang gila melihat kebenaran ini
Actor VII     : pergilah jangan menjadi seorang pengecut yang tak bertanggung jawab,
Actor IV      : bergegas-gegas untuk pergi menemui pengadilan untuk mempertanggung jawabkan perbuatan
Actor VIII,IX,X.::tiga actor ini berperan menjadi penegak hokum, dan duduk dikursi hakim, dengan propertinya
Actor I         :alimin datang juga kepengadilan seola-olah untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya dan ikut persidangan,,lalu berdiri membelakangi penonton untuk dengan tegas ia berdiri,
Actor VIII,IX,X.: lalu hakim memulai persidangan, dengan mengetuk palu sidang,
                     Thuk, thuk, thuk,,!!! sidang dimulai,,, kepada terduga silahkan berbicara.
Actor I         :yang mulia hakim yang terhormat,saya tidak akan membela apa yang sudah saya lakukan, saya justru ingin menjelaskan, bahwa memang benar saya yang melakukan segala ini, wanita itu saya cabik lehernya, karena saya rasa itu yang paling tepat untuknya
                     Kemudian harta bendanya saya rampas, karna tidak dimanfaatkan akan mubadzir
Actor VII,VIII,IX.: : dari bukti yang ada.bahwa sanya kamu melakukan dengan keadaan mabuk, apakah itu benar!!
Actor IV      :, data-data itu tidak falid,, saya lakukan itu dalam keadaan tenang, pikiran saya waras, tapi mengapa?mengapa? saya tak bisa menjawabnya, karena bukan itu permasalahannya,
              Saya justru ingin menanyakan kepada paduka, dan seluruh hadirin yang ada disini. Mengapa wanita yang  tercabik lehernya mendapatkan perhatian yang begitu besar?
              Sementara leher saya dan seluruh jutaan leher orang lain yang dicabik-cabik tak pernah diperhatikan,
              Apa arti kematian seorang pelacur ini, dibandingkan dengan kematian kita secara beramai-ramai tanpa kita sadari
              Didepan anda sekaliaan ini saya menuntut, berikanla saya hukuman yang pantas, tapi jangan lupa berikan pula hukuman pada orang yang telah mencabik-cabik leher kami itu, dengan setengah pantas saja,
              Karena saya leher cabik wanita itu dengan harapan anda semua teringat, bahwa leher kamipun telah dicabik dengan cara yang sama. Dan semuga ingatan-ingatan itu diikuti pula dengan hukuman pada yang bersangkutan
              Kalau sudah begitu apapun yang dijatuhkan pada saya, dua kali mati sekalipun akan saya jalani dengan rela, tapi kalau tidak itu namanya semena-mena
              Tiba-tiba ada bunyi , “dhungggggggggg, seperti orang mengetuk pintu lalu alaimin terkejud.
Actor XI: datang menjadi seorang bos yang menyuruh alimin untuk membunuh perempuan itu,,
Actor IV: lalu alimin menyapanya.
              Oh..!! bapak kaudisitu rupanya.1! ada apa lagi,,
Actor XI:ada apa?2 bagaimana? Dengan persoalan yang kemaren,
Actor IV: oh masalah itu ,,,, beress,,!!
              Badannya saya potong tiga . dua potong saya geletakkan deket sampah dan yang sepotong lagi, saya sembunyikan dirawa,
              Nah, pasti ketemu,, tapi biar kesulitan sedikit,,  Pokoknya beres jangan khawatir,
Actor XI: kamu keliru
Actor IV: apa, masa? Keliru, tidak mungikn, tpi anak itu memakai anting sebelah kiri bukan,
Actor XI: sementara dia memakai bagian kanan goblok,
Actor IV: kanan.? apa beedanya,!! Kan bapak Cuma bilang kalau dia pakai anting
              Mungkin pada waktu itu dia memakai keliru supaya orang keliru, !! tapi saya tau itu dia. Cuma dia yang pakai baju seperti itu, dan jalannya teppang sedikit,,
              Belum sempat berpaling, saya beri,,  
Actor XI: salah tolol,, gk becus kamu,
Actor IV:hah,!! Salah , jadi itu siapa?
Actor XI: dia anak seorang penjual somay, apakah kamu tidak mengenalinya, atau mungkin kamu buta,,
Actor IV: anak tukang somay itu, iya saya kenal,,
              Bajingan. Kenapa bisa begitu,?! Dia kan orang baik,.
Actor XI: pergi meninggallkan panggung tanpa menghiraukan alimin,,
Actor IV:hey tunggu,(kemudian alimin menyesali perbuatannya, lalu curhat pada tuhan.)
              Ya tuhan, kenapa? Kamu tipu saya,  kenapa tak kamu bilang bukan itu orangnya, keliru si boleh saja, tapi jangan anak itu, bapaknya kan baik sekali, ibunya juga selalu memberi nasehat(lalu meminta maaf pada seorang ibu korban)
              Saya minta maaf bu, minta berjuta2 ampun, bukan saya yang melakukannya, tapi setan, apa alas an saya untuk mengganggu nanak ibu
              Saya justru banyak berhutang budi sama ibu, ibu selalu membelikan rokok, membelikan minuman, ibu sering menegur saya didepan orang banyak tanpa malu2, dan saya sering diperkenalkan kepada teman2 ibu, sebagai orang baik,
Actor XII:sang ibu berkata(
              Aku tak menyangka, kau setega itu, kan kamu tau dia temenmu
Actor IV:: alimin menjawab,
              Iya betul dia memang teman saya, tapi tidak itu bukan perbuatan saya, itu perbuatan orang lain yang memakai tubuh saya , saya tak ikut bertanggung jawab, apa?,,
Actor XII: kamu tau hokum karma
Actor IV: saya tau itu, kesalahan tidak bisa diperbaiki degna kata2 yasudah biar lunas,, potong saja tangan saya,,,
              Lalu alimin memotong tangannya, sebagai pertanggung jawaban,karena ia telah membunuh temennya sendiri,

              Aku sudah potong tangan ku, tapi masih belum terasa lunas,
Dengan sedih dia menyesalinya,
Wajahnya selalu memburuku, lalu buat apa? Aku potong. Kalau masih saja di ungkit. Norang keliru namanya masak masih saja terus diburu? Masa aku yang harus menanggung ini sendirian,?
Mana? Mereka yang menyuruh? Ini semua kan gara2 mereka,
 masa sekarang Cuma aku saja yang menanggung buntutnya, tangkap dong mereka semua, biar adil, jangan aku saja,
 lama2 begini aku menjadi tidak kuat,, yang ditangkap mesti yang dosanya sedikit,
betul, lihat itu yang kakap, malah asik berpestpora disitu, naik sedan mewah anti peluru, tangkap mereka, aku kan Cuma bandit kecil, tangkap mereka.!!,
yasudah kalau begitu tak jadi saja aku potong, kalau kamu bisa curang aku juga paling bisa.!!
Lalu alimin seakan dipenjara dan mendapat hukuman yang seberat2nya, dan disiksa,
Lama kemudian,,,, sang alimin mulai dialog lagi , dangan expresi,, seakan dia sudah puluhan tahun di penjara,  dan lighting kuning yang hidup,
Bertahun2 aku alihkan makana kemerdekaan kedalam jiwaku tapi tak pernah berhasil,
Kemerdekaan, itu selalu kebebasan raga, tapi pada hari ini aku akan bebas, walaupun tubuhku masih dipatok diantara dinding jahannam ini, tapi jiwaku sudah bebas, aku tidak memerlukan kebebasan tubuh lagi, karena jiwaku sudah merdeka, tapi setelah puluhan tahun mengalami siksaan , tiba2 mereka mengantarkan, pengadilan telah salah, aku tidak berdosa. Aku diserert lagi keluar untuk berlomba mereguk kebeasan jasmani, aku tidak siap, aku seperti burung yang terlalu lama dalam sangkar, aku tak bisa lagi terbang, aku takut dunia ini tak kukenal lagi,
Pada kesempatan pertama kugerogoti barang2 tetangga, tapi tak ada yang menangkapku, hansip malah berbagi, dan menunjukan warung berikutnya,,
Pada kesempatan yang lain, kuangkat belati keleher seorang penumpang becak,, dari kantongnya keluar jutaan rupiah, yang dibalut dengan kertas Koran, aku kira polisi akan memangkapku tapi ternyata tak ada yang tau
Pada kesempatan ketiga kuperkosa seorang gadis dipinggir kali, ia menjerit2 dalam tindihanku, tapi tak ada yang menolong,, hingga akhirnya aku lepaskan, karena jasmaniku tak sanggup lagi memperkosa, karena putus asa, aku gebuk orang dijalan, mukanya berdarah, tapi tak ada juga yang menangkapku, aku malahn diangkat menjadi keamanan, aku diberi kehormatan, dan banyak orang berbaris jadi pengikutku, apa yang harus aku lakukan.ternyata segalanya sudah jungkir-jungkiran.
Yang dulunya kejahatan, sekarang jadi kiat yang dipujikan, aku tak paham lagi dunia ini, aku jadi orang asing, aku tak bisa lagi menik mati kemerdekaan, bisa2 aku gila, masukan aku kedalah penjara lagi, disana masih jelas, mana hitam, mana? Puti, kalau dunia sekarang yang ada hanya kebingungan,
Tiba2 lighting mati, dan panggung gelap,  keadaan menjadi sunyi, beberapa menit kemudian, actor yang terakhir datang, dengan memerankan seseorang yang bijak, lalu dia menutup cerita, dengan mengejudkan dia datang bersamaan dengan lighting hidup, dan bunyi dhoooorrrrrrrr

Actor XIII: AKTOR TERAKHIR,,,,,,,,,
              Kalau sudah menderita, orang menjadi penyair, kalau hendak kepepet orang mulai bernyanyi, dan kalau ada orang yang hendak dirampok, orang berdo’a, dan sekarang aku akan menari, karena sudah putus asa, badanku ringan , aku melambung ke angkasa, dan tuhan menyapaku dengan ramah,
Bung alimin hendak kemana kamu, aku mau keatas, lebih tinggi, tapi kamu tidak boleh lebih tinggi dari surga, siapa bilng tidak, kalau aku mau, aku bisa,
Dan aku melenting lagi, tetapi terlalu jauh, aku terlontar jauh sekali, tinggi sekali melewati surge, kedekat matahari,, tubuhku terbang, aku hangus dan hilang dalam semesta, aku tidak ada lagi, alimin menyatu dengan bimasakti, aku menjadi, dewa, atau mungkin bukan, aku Cuma hantu,, enak juga jadi hantu, tidak kelihatan, tapi bisa melihat, aku bisa masuk kekamar mandi, dan melihat perempuan mandi yan g menjadi cabul ketika sedang sendiria, lalu aku masuk kekamar tidur para pemimpin,,, dan melijhat ia, menjilat pantat istrinya seperti anjing,lalu aku masuk kerumah suci, dan melihat beberapa pendeta main judi, sambil menarik narik kain para pembantu, tidak ada orang yang bersih lagi,, sementara2 dokma2 makin keras ditiup, dan aturan makin banyak dijajarkan, untuk membatasi tingkah laku manusia, peradaban semakin kotor.,, apa? Ini,,, hey,, apa ini,, menjadi hantu hanya melihat keberengsekan,,
Tidak enak jadi hantu,, tidak enak jadi dewa,,,, lebih baik, aku menjadi batu, diam dingin dan keras,,  aku akan mengkristal disini, menjadi saksi bisu, bagaimana? Dunia menjadi tua
Pemimpin2 lahir berkibar kibar sebentar, lalu berkhianat,peperangan hanyha mainan orang tokh sejarah, manusia disibukan dengan peradaban, teknologi menjadi buas,
Tak satupun bersangkutan dengan kehadiranku,
Tiba2 aku melihat anak kecil dikejar raksasa wajah anak itu, mirip sekali dengan wajahku waktu masih menyusu., ia meronta2 minta pertolongan, tapi tak ada orang lain disitu, kecuali aku dan sebuah batu,, ia menjerit2 pilu, tlongggggggggggggggg,,, akju jadi terharu, akhirnya aku tak bisa diam, aku melompat mengambil sebuah batu, dan menghantam raksasa itujadi pahlawan,mengingkariku yang tak berdaya,, raksasa itu mati, tapi anak itu juga lari, dimana?2 ia bercerita bagaimana? Ia membunuh raksasa dg tangan hampa,, dan itulah aku,,, kejahatan terbesar aku adalah, menghianati diriku sendiri,,
Ya itu dia,
Tiba ada bunyi yang menjadi penutup dari cerita, lalu actor terakhir berdialog lagi
Selamat tinggal dinding bisu, dengan segala suara yang kau simpan, selamat tinggal jendela, kau yang telah memberiku matahari dan bulan, selamat tinggal sipir penjara, yang marahnya tak habis2 pada dunia,, dan selamat tinggal karpo , pembunuh yang tak akan keluar hidup dari penjara ini,,, selamat tinggal segala yang kubenci dan kucintai, inilah salamku,,,  sahabat semua orang yang sekarang harus pergi,, ingin kuulang semua, walau hanya sebentar,,
Tapi tak bisa janjiku sudah lunas, sekarang aku berjalan kedalam, kebisuan yang abadi untuk membeku bersama masa lalu, sekarang baru jelas, apa yang sudah aku lakukan, apa yang akan aku lakukan, dan apa yang masih belum aku lakukan, tapi semuanya sudah selesai,, dan segala kekurangannya ini adalah karya yang sempurna, aku mengagumi keindahanNya, akun merasakan kehadiranNya, aku masuki tubuhNya sekarang ,
SELAMAT TINGGAL SEMUANYA



SEKIAN,!!!!

                                                                                                            Teaterkopi.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More