Sebelum q menggenggam tawasmu
bermalam dengan pertunjukan yang singkat itu
Berlayar di samudra pasai
yang ombaknya berselimut hutan
Aku adalah seorang ayah
Di bawah naungan kain berwarna kuning
Mungkin tiga setenah hari
Jarak antara ayah dengan pertunjukan itu
Nafasmu bersilabut emas berbiji baja
Bagaimana dengan nafas seorang ayah?
Aku yakin itu gampang untuk kmu baca
Karena kamu manusia
Namun karena aku juga manusia
Maka aku berperan sebagai manusia, layaknya berkepala dua
Aku hargai ucapanmu
untuk merayakan kelahiran seuntai harapan
Apa kamu tidak melihat ketika aku berjuang untuk merayakannya
Dengan langkah seribu langkah
Penuh dengan duri walaupun itu bukan duri
Karena ada yang berrbisik bergumam mengatakannya di ilusi telingaku
Hingga q bersandar di pentas drama yang licik itu,
Padahal kamu juga tau anakku yang masih umur belita telah aku bawa sebagai wujud rasa hargaku ke kamu,
Namun kamu hanya melihatnya dengan belirik tidak pasrah,
Anakku sungguh sungguh memerankan
Sebagai kado dikala itu waktu penyelaian
Di penghujung waktu ketika aku dan anakku mati karena sifatmu.
Aku bersumpah
Perasaan hanyalah kekerasann penindasan ato pemerkosaan
Sekarang aku tau.!!
Mulutmu sudah menjadi pintu
Nafasmu sudah menjadi angin yang bau
Lalu,!!!
Ucapanmu menjadi ludah yang diayunkan oleh tanganmmu sendiri
Yang ku kenang pada abad setelah desember berganti januari
(Pengalaman menghargai tapi tak dihargai)
28/12/2013: 19:30-21:22
bermalam dengan pertunjukan yang singkat itu
Berlayar di samudra pasai
yang ombaknya berselimut hutan
Aku adalah seorang ayah
Di bawah naungan kain berwarna kuning
Mungkin tiga setenah hari
Jarak antara ayah dengan pertunjukan itu
Nafasmu bersilabut emas berbiji baja
Bagaimana dengan nafas seorang ayah?
Aku yakin itu gampang untuk kmu baca
Karena kamu manusia
Namun karena aku juga manusia
Maka aku berperan sebagai manusia, layaknya berkepala dua
Aku hargai ucapanmu
untuk merayakan kelahiran seuntai harapan
Apa kamu tidak melihat ketika aku berjuang untuk merayakannya
Dengan langkah seribu langkah
Penuh dengan duri walaupun itu bukan duri
Karena ada yang berrbisik bergumam mengatakannya di ilusi telingaku
Hingga q bersandar di pentas drama yang licik itu,
Padahal kamu juga tau anakku yang masih umur belita telah aku bawa sebagai wujud rasa hargaku ke kamu,
Namun kamu hanya melihatnya dengan belirik tidak pasrah,
Anakku sungguh sungguh memerankan
Sebagai kado dikala itu waktu penyelaian
Di penghujung waktu ketika aku dan anakku mati karena sifatmu.
Aku bersumpah
Perasaan hanyalah kekerasann penindasan ato pemerkosaan
Sekarang aku tau.!!
Mulutmu sudah menjadi pintu
Nafasmu sudah menjadi angin yang bau
Lalu,!!!
Ucapanmu menjadi ludah yang diayunkan oleh tanganmmu sendiri
Yang ku kenang pada abad setelah desember berganti januari
(Pengalaman menghargai tapi tak dihargai)
28/12/2013: 19:30-21:22

0 komentar:
Posting Komentar