Indah bila tersenyum nan merindu
Berhasrat gengan angin setelah malam
Terlelap namun sekejab dalam tidur
Melukiskan air mata kalbu dan
Membisukan beberapa halaman
Dulu.!, saat kita belum cukup usia
Berrmain lereng – lerengan dan
Sejuta pasir kekanak-kanakan
Tiba-tiba terjatuh lalu menangis
Pulang dengan berbaju celana kotor
Ditegur lalu kita menangis lagi
Tiap hari kuperlakukan demikian
Begitupun dengan esok ,lusa atau nanti
Kalau boleh aku menyebutnya
Hanya sekedar membalikkan tangan
Itu adalah cerita dari karangan belaka
Kusimpulkan sebuah kenangan unik
Yang tak kita mampu memutarnya kembali
Dalam dini dan pagi hari
Masihkah kita kelabu saat itu
Atau identitas diri sendiri dalam filsafat
Tetap saja itu hanyalah sebuah filosofi
Berapa lama jarak antara selat dan samudra
Bagaimana dengan mimpi dalam ilusi
Mengelilingi relrel kerete api,itu dulu
Sang penyair sedang berimajinasi
Hampir menuliskan baris bukan sajak
Tak lama kemudian berhenti sejenak
Lalu ia menemukan sebuah bahasa
Mungkin engkau kalimat baru
Dalam lukisan telenofela itu
Dengan kata-kata indah dia merangkainya
Dan sekedar untuk dimuat dalam majalah
Bolehkah aku bertanya
Melalui beberapa bait
Sudihkah engkau jawab
Dengan puisi bukan prosa
Sedalam manakah lautan cinta seorang gadis
Yang aku lihat dalam panorama suram
Dengan kasih sepasang kakak dan adik
Yang hanya baru berharap dan engkau menyepakati
Bukankah kita sudah jauh mengukir perumpamaan itu
Dan kita berjanji untuk saling berjabatan tangan
Hanya saja engkau mengingkarinya
Ataukah aku yang masih belum tau
Bagaimana mengartikan perumpamaan itu
Sudahlah..!!
Itu pemandangan dalam kisah belum selesai naskahnya
Ingg (terkadang aku mengingatmu,dan kulakukan sering kali)
Batu,21-02-2014//11:56
Berhasrat gengan angin setelah malam
Terlelap namun sekejab dalam tidur
Melukiskan air mata kalbu dan
Membisukan beberapa halaman
Dulu.!, saat kita belum cukup usia
Berrmain lereng – lerengan dan
Sejuta pasir kekanak-kanakan
Tiba-tiba terjatuh lalu menangis
Pulang dengan berbaju celana kotor
Ditegur lalu kita menangis lagi
Tiap hari kuperlakukan demikian
Begitupun dengan esok ,lusa atau nanti
Kalau boleh aku menyebutnya
Hanya sekedar membalikkan tangan
Itu adalah cerita dari karangan belaka
Kusimpulkan sebuah kenangan unik
Yang tak kita mampu memutarnya kembali
Dalam dini dan pagi hari
Masihkah kita kelabu saat itu
Atau identitas diri sendiri dalam filsafat
Tetap saja itu hanyalah sebuah filosofi
Berapa lama jarak antara selat dan samudra
Bagaimana dengan mimpi dalam ilusi
Mengelilingi relrel kerete api,itu dulu
Sang penyair sedang berimajinasi
Hampir menuliskan baris bukan sajak
Tak lama kemudian berhenti sejenak
Lalu ia menemukan sebuah bahasa
Mungkin engkau kalimat baru
Dalam lukisan telenofela itu
Dengan kata-kata indah dia merangkainya
Dan sekedar untuk dimuat dalam majalah
Bolehkah aku bertanya
Melalui beberapa bait
Sudihkah engkau jawab
Dengan puisi bukan prosa
Sedalam manakah lautan cinta seorang gadis
Yang aku lihat dalam panorama suram
Dengan kasih sepasang kakak dan adik
Yang hanya baru berharap dan engkau menyepakati
Bukankah kita sudah jauh mengukir perumpamaan itu
Dan kita berjanji untuk saling berjabatan tangan
Hanya saja engkau mengingkarinya
Ataukah aku yang masih belum tau
Bagaimana mengartikan perumpamaan itu
Sudahlah..!!
Itu pemandangan dalam kisah belum selesai naskahnya
Ingg (terkadang aku mengingatmu,dan kulakukan sering kali)
Batu,21-02-2014//11:56

0 komentar:
Posting Komentar